Pengertian Canopy antenna
Motorola Canopy adalah salah
satu jenis perangkat Wireless Radio yang cukup baik yang ada dilapangan saat
ini.Untuk keperluan backhaul, peralatan yang dibutuhkan tidaklah banyak. Hanya
Radio berikut Antena serta power supply yang sudah ada di Adapator yang
menggunakan sistem PoE (Power over Ethernet). Peralatan Motorola Canopy
terhubung ke jaringan LAN melalui konektor RG-45 yang ada di bawah Motorola
Canopy.
Konfigurasi Motorola Canopy BackHaul
Berikut coretan2 mengenai
konfigurasi Motorola Canopy BackHaul yang ada dalam memori untuk dipindahkan
disini supaya tidak lupa
Adapun dalam konfigurasi
Motorola Canopy ini 3 hal yang paling utama untuk kita konfigur adalah :
* Frekuensi
* Sinkronisasi
* Network IP Address
* Sinkronisasi
* Network IP Address
Canopy sangat Flexibel,
bisa digunakan untuk membuat jaringan yang sederhana hingga yang kompleks.
Karena bila ingin membuat jaringan yang kompleks maka option2nya tersedia.
Untuk bisa berkomunikasi
maka setiap AP maupun BH Master (dalam hal ini BH canopy bisa diset sebagai
Master dan Slave) harus di set frekuensi. Dan dalam memilih frekuanse apabila
ada beberapa AP atau BH Master maka sebaiknya dipisahkan sekurang2nya 20MHZ ato
25MHz untuk mencegah terjadinya Interferensi. Dan untuk mengatasi hal ini bisa
dengan pemisahan tersebut, dan bila ada beberapa radio (misal: AP 360 derajat)
maka bisa melakukan sinkronisasi pancaran dari radio. Karena hal ini akan
membuat Motorola Canopy memancar dan menerima signal pada interval waktu yang
sama. Yang dapat dilakukan dengan menggunakan Canopy Cluster Management
Module`s (CMM) atau menggunakan kabel sinkronisasi ( menggunakan rg-11 6pin
serta dimasukkan di port sebelah kanan bagian bawah Motorola Canopy). Dimana
apabila menggunakan CMM maka pada Motorola Canopy kita set ke posisi: Sync to
Received Signal (Power Port) sedangkan apabila menggunakan kabel sinkronisasi,
maka kita bisa mengkonfigur 1 radio Sync to Received Signal (Timing Port) dan
radio yang lainnya Generate Sync Signal.
adapun default IP yang digunakan Motorola Canopy :
IP Address : 169.254.1.1
Subnet Mask: 255.255.0.0
Default GW : 169.254.0.0
IP Address : 169.254.1.1
Subnet Mask: 255.255.0.0
Default GW : 169.254.0.0
Cara Mengkonfigurasi Canopy BackHaul Master/Canopy AP
- Cara yang paling mudah adalah mengkonfigurasinya melalui web browser. Sebelumnya pastikan IP address di komputer yang akan digunakan untuk mengkonfigurasi berada dalam satu kelas dengan IP address radio Canopy. Untuk radio Canopy yang masih gress atau baru atau default, biasanya menggunakan standar IP 169.254.1.1 dan netmask 255.255.0.0.
- Setelah masuk ke home page menu radio Canopy, maka akan muncul tampilan "General Status" dari radio Canopy tersebut. Apabila perangkat menggunakan software versi 8.2 ke atas, maka akan muncul peringatan bahwa "Region Code" belum disetting atau statusnya masih "None". Untuk itu kita perlu mensetting region code tersebut melalui menu utama sebelah kiri, pilih "Configuration", kemudian pada tab menu sebelah kanan pilih "General". Selanjutnya pada page tersebut isilah parameter "Region Code" dengan "Other" (Default: "None"). Kemudian klik tombol "Save Changes" di bawah. Kemudian akan muncul peringatan untuk merestart perangkat. Abaikan dulu perintah tersebut, kita lanjutkan dulu untuk mengkonfigurasi parameter lainnya.
- Untuk mengkonfigurasi secara dasar radio Canopy, pilihlah "Quick Start" pada menu utama sebelah kiri.
- Akan muncul halaman "Welcome to the Canopy Quick Start......", klik "Go To Next Page=>"
- Kemudian kita akan diminta untuk memilih "Radio Carrier Frequency" yang akan kita gunakan. Jika kita menggunakan radio Canopy Backhaul type 5700BH, umumnya carrier frequency dimulai 5735 MHz - 5840 MHz dengan selisih antar frekuensi sebesar 5 MHz. Sedangkan pada Canopy Backhaul type 2400BH, umumnya carrier frequency dimulai 2414.0 MHz - 2457.5 MHz dengan selisih antar frekuensi sebesar 2.5 MHz.
- Jika kita memasang radio Canopy secara cluster, biasanya digunakan untuk AP, maka selisih frekuensi antara tiap perangkat minimal sebesar 20 MHz, namun direkomendasikan selisihnya sebesar 25 MHz.
- Setelah menentukan carrier frequency yang akan kita gunakan, selanjutnya kita beralih ke page berikutnya dengan meng-klik "Go To Next Page=>"
- Di halaman selanjutnya, yaitu "Synchronization" kita diminta untuk mendefinisikan sistem sinkronisasi transmisi signal. Ada 3 pilihan: Power Port (melalui port POE RJ-45), Timing Port (melalui port RJ-11), Generate Sync Signal. Apabila kita memasang AP cluster, maka sangat disarankan menggunakan sistem sinkronisasi "Power Port" menggunakan Canopy CMM agar antar AP tidak saling interferensi. Namun jika untuk keperluan point-to-point, maka cukup menggunakan sistem sinkronisasi "Generate Sync Signal". Sedangkan untuk sistem sinkronisasi "Timing Port" digunakan untuk keperluan instalasi Canopy lebih lanjut. Kemudian klik "Go To Next Page=>"
- Halaman selanjutnya kita diminta untuk mendefinisikan IP address yang akan digunakan pada radio Canopy tersebut. IP address tersebut berfungsi untuk memonitoring, update, dan memanage radio Canopy tersebut. Saya sarankan agar menggunakan IP private saja selama tidak ada keperluan khusus yang mengharuskan menggunakan IP public. Apabila IP address radio Canopy tersebut dihubungkan dengan DHCP Server, maka aktifkan (Enabled) fitur DHCP State. Selanjutnya klik "Go To Next Page=>"
- Pada page terakhir kita diminta untuk mereview kembali hasil konfigurasi yang sudah kita lakukan. Jika dirasa sudah benar dan yakin, maka klik "Save Changes". Setelah itu akan muncul peringatan berwarna merah "Reboot Required", klik "Reboot"
Cara
Mengkonfigurasi Canopy Backhaul Slave / Canopy SM
Pada dasarnya
cara mengkonfigurasinya hampir sama dengan mengkonfigurasi Backhaul Master atau
AP, bedanya untuk Backhaul Slave atau SM tidak men-generate sinkronisasi
melainkan menerima sinkronisasi dari pemancar Backhaul Master atau AP. Berikut
ini cara singkatnya :
- Buka web browser, kemudian masukkan alamat http://169.254.1.1 (Default).
- Pilih menu "Configuration", kemudian definisikan parameter di bawah ini :
-> Timing Mode
|
: Slave (Untuk SM tidak
perlu)
|
-> Region Code
|
: Other
|
-> IP Address
|
: Disesuaikan dengan kelas
IP jaringan wireless kita
|
-> Frequency Carrier
|
: Check All (Centang
Semua)
|
Mengaktifkan Timing Master pada BackHaul.
Untuk mengaktifkan timing master pada Motorola Canopy BackHaul dapat dilakukakan pada bagian konfigurasi, yang mana disitu terdapat menu TIming Mode yang mempunyai 2 pilihan yaitu Timing Master dan Timing Slave. Adapun default dari Motorola Canopy biasanya Timing Slave sehingga kita perlu menswitch ke TIming Master.
Untuk mengaktifkan timing master pada Motorola Canopy BackHaul dapat dilakukakan pada bagian konfigurasi, yang mana disitu terdapat menu TIming Mode yang mempunyai 2 pilihan yaitu Timing Master dan Timing Slave. Adapun default dari Motorola Canopy biasanya Timing Slave sehingga kita perlu menswitch ke TIming Master.
Setelah kita aktifkan
Timing Master, maka kita harus nge-save dan refresh tampilan pada browser dan
setelah itu baru kita reboot. Setelah itu beberapa hal penting yang perlu kita
konfigur adalah:
- RF Frequency Carrier, dimana nilai defaultnya “none” dan kita harus memilih salah satu frekuensi yang ada. Sebaiknya diset beda frekuensi dengan radio lain skitar 25MHz agar tidak saling interferensi.
- Password untuk melihat dan mengubah konfigurasi.
- Color Code, yang harus sama antara Master dan Slave
Kemudian kita dapat ngeset
Site Name, Site Contact dan Site Location untuk informasi radio. Atau kita bisa
juga ngeset Airlink Security, enkripsi dapat di enable agar lebih aman, ataupun
SM Scan Privacy kita disable agar BackHaul tidak bisa di terdisplay di AP Eval
Data BackHaul Slave ataupun Subscrible Module (SM). Menu berikutnya adalah
nge-set IP, disini kita bisa ngeset IP Address, Subnet mask, dan IP Gateway
interface LAN.
Konfigurasi Timing Slave pada BackHaul
Konfigurasi BackHaul Timing
Slave lebih sederhana dibandingkan Timing Master. Pada Menu Status kita dapat
melihat Motorola Canopy sebagai client, yang biasanya kita akan melihat Session
Status, Registered AP, RSSI dan Radio Power Level.
Yang biasa kita set di Timing Slave ini adalah:
Yang biasa kita set di Timing Slave ini adalah:
- Custom RF Frequency, dimana kita bisa nge-set Motorola Canopy untuk
melakukan Scanning pada Channel berapa aja. Ada mudahnya kita ngeset agar men-scan
disemua channel yang ada

- Color Code, dimana color code harus sama dengan yang kita set Timing Master.
- Password untuk melihat dan mengubah konfigurasi.
- Lalu kita bisa set lagi IP Address, Subnet mask, dan IP Gateway interface LAN.
Menu berikutnya yang ada di
Motorola Canopy adalah menu link test, dimana pada menu ini kita dapat nge-test
link yang sedang kita kerjakan. Beberapa informasi yang yang bisa kita dapat
adalah:
- Effisiensi sambungan, baik uplink (dari Slave ke Master) maupun donwlink (dari Master ke Slave)
- Kecepatan Data
kemudian ada menu Aligment,
dimana kita bisa menkonfigurasi dan melihat kekuatan sinyal, jitter dan jumlah
pengguna yang menggunakan channel yang ingin kita coba.
atau kita bisa menggunakan menu Spectrum Analyzer untuk
menentukan channel yang ingin kita gunakan. Dimana disini kita bisa melihat
kira2 pada channel berapa yang bagus untuk kita gunakan karena akan terlihat
kondisi frekuensi yang ada disekitar kita secara realtime dengan menekan tombol
enable.
Kemudian juga di
menu AP Eal Data kita juga dapat melihat Radio2 Motorola Canopy AP maupun
TIming Master yang ada disekitar kita, sehingga kita bisa menentukan frekuensi
yang tepat dan tidak mengganggu radio Motorola Canopy lainnya.
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar